Kamis, 12 Desember 2013

Berkah dibalik Ujian

Di bulan maret yang lalu, sungguh saya tak pernah membayangkan akan mengalami suatu peristiwa yang luar biasa namun memberikan banyak pelajaran untuk pribadi. Di saat sedang sibuk-sibuknya menyusun proposal penelitian saya dihadiahkan Allah hikmah di balik sebuah ujian. Ya memang diri ini yang sebenarnya patut disalahkan karena tak pandai menjaga kesehatan sehingga saya terkena penyakit yang membuat saya hampir tak berdaya. Beberapa pekan sebelumnya seperti biasa saya menjalani rutinitas, mulai dari kuliah, mengajar les, membina adek adek SMA, dan jika ada waktu luang saya gunakan mencari data penelitian, sesekali ke perpustakaan daerah dan balai arkeologi, ke tempat objek penelitian saya yang letaknya bisa dikatakan sangat jauh.Setelah beberapa minggu kemudian tepatnya di pertengahan maret saya jatuh sakit, ya saya pikir hanya demam biasa karena faktor kurang istirahat, ironinya saya memaksakan diri untuk kuliah dan ketika pulang dari kampus keluarga yang melihat kondisi saya yang sakit menyarankan saya untuk ke dokter. Dari analisis dokter saya hanya divonis terkena demam biasa dan tekanan darah saya rendah, akibat kelelahan dan kurang istirahat. Keluarga saya pun menyarankan saya untuk istirahat lebih dulu dan libur kuliah.Saya pun mengikuti keluarga,karena tak ingin kondisi kesehatan semakin lemah dan nantinya akan mengganggu aktivitas saya terutama dalam menyusun proposal penelitian. Tiga hari berlalu ketika mulai merasa baikan saya pun mulai melakukan rutinitas kembali. Namun seminggu kemudian kondisi fisik saya mulai drop, saya pun menganggap mungkin gara-gara saya kurang istirahat, namun ada gejala yang berbeda dari biasanya.Mata yang semakin semakin merah dan kening saya dihinggapi seperti bentol kecil seperti kaligato,lagi-lagi saya menganggap ini biasa. Tetapi ketika beberapa hari kemudian saya mulai merasa tidak tahan terutama bagian kepala saya semakin hari semakin terasa nyeri seperti sakit kepala namun terasa sakit luar biasa.Karena khawatir terjadi apa-apa saya pun memberanikan diri bercerita pada saudara perempuan saya yang kebetulan menginap di rumah dan beliau berpikiran sama seperti saya bahwa ini penyakit biasa, beliau juga menduga kalau saya alergi sehingga timbul bentol. Lalu saudara menceritakan ini kepada ortu, alhasil saya kembali dibawa ke dokter.Saya ingat betul kejadian malam minggu, ketika itu hujan deras, dua malaikat saya (papa dan mama) berjuang membawa saya ke klinik terdekat.Saat itu perasaan saya tak karuan dan sempat takut dengan diagnosa dokter.Setelah diperiksa dokter ternyata benar, ini gelaja penyakit yang belum pernah saya alami yakni Herpes zoster (sejenis cacar ular) dan saya diminta istirahat selama dua minggu dan diberikan beberapa pantangan dalam menu makan. Saya pun tertunduk lemas, karena di benak saya akan banyak pekerjaan saya yang tertunda terutama proposal penelitian saya.Ketika pulang dari klinik dan sampai di rumah setelah makan malam dan minum obat, saya pun menyediri di kamar.Kali ini saya menetes air mata dan tak henti-hentinya memohon ampun kepadaNya karena tak pandai menjaga kesehatan dan saya pun menyesal karena kelalaian saya yang tidak menjaga kesehatan dengan baik , saya harus menunda seminar proposal saya yang telah dinanti ortu.Selang beberapa hari kemudian penyakit ini semakin memuncak bahkan bisa dikatakan bertambah parah,bentol di kening hanya kecil semakin membesar, kepala pun semakin terasa sakit, mata semakin merah.Bahkan keesokan hari akibat infeksi dari bentol di kening menyebabkan mata saya sempat tertutup satu. Hal ini tentu membuat keluarga semakin sedih dan cemas, dan berusaha mencari berbagai cara untuk mengobati penyakit saya.Melihat perjuangan mereka rasanya tak tega dan setiap malam diri tak henti menangis karena terlalu menyusahkan keluarga terutama orang tua yang setiap 3 hari sekali membawa saya check up ke dokter dan mnembus obat dengan biaya yang tidak sedikit.Bahkan mama pun pernah meneteskan air mata di depan saya karena tak tega melihat kondisi saya. Saat itu saya benar-benar merasa tidak berdaya dan pasrah akan kekuasaan Allah,bahkan pernah terlintas saya ikhlas jika Allah ingin mengambil saya asalkan saya tidak menyusahkan keluarga saya dengan penyakit ini.Namun sosok keluarga saya lah yang menjadi penyemangat saya, mereka merawat saya dengan tulus penuh kasih sayang. Saya mengingat kembali ketika dulu saya sehat saya sedikit sekali meluangkan waktu untuk mereka,bahkan saya bisa dikatakan egois yang hanya asyik dengan dunia sendiri.Hal inilah yang membuat saya malu ketika saya sakit dan pada saat itu saya berjanji jika saya diberikan kesembuhan saya akan memperbaiki semua dengan banyak meluangkan waktu untuk keluarga tercinta. Dua minggu kemudian penyakit ini semakin berangsur sembuh,namun kondisi saya belum stabil dan masih belum diizinkan berkativitas di luar rumah, bahkan saya pun tidak melihat dengan jelas jika ada sinar matahari, seperti ada radiasi mata.Ortu pun membawa saya ke dokter spesialis mata, disana dokter mengatakan bahwa mata saya masih terinfeksi virus cacar dan saya pun disarankan untuk beristirahat terlebih dahulu sampai benar-benar pulih.Namun karena di kampus jadwal seminar sudah ditentukan dan saat itu ada pelaksanaan seminar terkahir sudah dekat, maka saya terpaksa untuk menyelesai proposal saya, dengan kondisi yang belum pulih benar, saya memberanikan diri untuk berkativitas di luar mencari data ke tempat yang objek penelitian, saya pun juga mengikuti kuliah seperti biasa meski masih sulit dalam melihat.Meski demikian saya tetap menjaga stamina dengan mengkonsumsi obat serta vitamin dari dokter di kampus.Ketika menjelang seminar proposal saat itupun kondisi mata saya belum pulih dan masih ada bekas cacar di kening. Ya, harus diakui pada waktu itu penampilan saya tidak maksimal dan beberap dosen pun ada yang heran dengan kondisi saya, namun akhirnya mereka mengerti setelah mengetahi bahwa saya habis terkena penyakit cacar.Radiasi mata ini sempat saya alami selama beberapa pekan, dan setelah sekian lama Alhamdulillah akhirnya penyakit sembuh total. Pasca dari masa mengalami sakit syaa pun mulai melakukan perubahan, diantaranya tidur tepat waktu, pola makan teratur, pulang kuliah tidak kesorean, meluangkan banyak waktu untuk keluarga dsb.Pada suatu hari saya ke perpustakaan daerah,tidak sengaja melihat sebuah buku yang berjudul "Mereguk Kasih Sayang Allah Melalui Ujian Sakit", buku ini kembali menyadarkan saya bahwa apa yang sedang saya alami kemarin bukanlah suatu musibah melainkan berkah dari Allah sebagai tanda cinta untuk membersihkan segala dosa dan sebagai cara untuk lebih mendekatkan diri padaNya.

Terimakasih Allah telah menghadiahkan peristiwa yang luarbiasa hikmahnya..
Terimakasih juga untuk keluarga tercinta yang setia menemani saya ketika saya sakit, saya mencintaiMU dan mereka^__^

Selasa, 03 Desember 2013

Surat Kecil Untuk Tuhan

Besok tanggal 4 Desember 2013, hari yang dulu sempat hamba menyimpan mimpi yang begitu indah..Namun sepertinya belum bisa hamba wujudkan untuk mereka, yang telah lama menanti keberhasilan hamba dalam mengenyam pendidikan disana, hamba tak tahu apa yang sedang Engkau rencanakan, tapi hamba percaya Engkau selalu memberikan yang terbaik..hanya Engkau dan mereka yang dapat membangkitkan semangat hamba yang sempat merapuh, hamba hanya berharap Engkau mengizinkan hambamu ini untuk dapat membahagiakan mereka, walau hamba tak bisa menjadi dan memberikan yang terbaik untuk mereka..

Selama Harapan Itu Masih Ada..
Maka perjuangan ini takkan mengenal kata letih..
 


Senin, 02 Desember 2013

TRY OUT AKBAR TAHUN KE-2 BIMBEL BINTANG:)



 berjuang bersama dalam satu atap, kolaborasi antar kelas (4.5 dan 6 EsdE^__^ )
















nah sekarang giliran kami pasukan kelas 6 yang beraksi..














 
 







Naluri Sang Guru

Hari ini lagi-lagi saya terlibat emosi terhadap kenakalan siswa, ya meski kadar marahku masih dikategorikan wajar, namun tetap saja ada perasaan menyesal setelah bersikap seperti itu. Jujur saya bersikap demikian bukan untuk melampiaskan emosi namun karena saya tidak ingin siswa tersebut terbiasa bersikap nakal yang saya nilai sudah tidak dapat ditolerin dan bisa dikatakan ini tanda peduli dan sayang sebagai seorang guru. Malam ini seperti biasa jika saya habis melampiaskan emosi kepada siswa, ada perasaan gelisah dan penyesalan yang menghampiri. Bukan kali ini saja, ini sering terjadi, bahkan berulang kali ketika saya bertindak tegas kepada siswa. Apakah ini memang naluri seorang guru? entahlah. Saking menyesalnya terkadang saya pernah menangis dan berharap tidak mengulangi lagi, meski saya tahu menahan kesabaran tidaklah mudah. Namun mungkin inilah pelajaran penting bagi saya untuk menjadi figur pendidik yang lebih sabar dan mencintai siswa saya dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka.